Hai ayah,
lagi - lagi aku merindukanmu, meski langkah ku tak mampu menghampiri hadapmu atau mungkin wajahku tak bisa menatapmu namun aku selalu bersikukuh kau mendengarku.
aku tak pernah tega, perihal hanya membayangkan kerutan alismu walau tak terlihat itu. saat aku mulai menyerah pada tiap - tiap fase keadaanku.
Ada 4 malaikat dunia yang kau sisakan padaku untuk ku jaga,
ayah, apakah kau sudah bicara pada Nya? bahwasanya apa benar aku kuat menghadapi semua?
suatu saat nanti aku ingin hijrah sebentar, mungkin beberapa waktu sampai aku benar - benar siap kembali dengan kenyataan.
Ayah, bukannya aku ingin berkeluh terus padamu atau mungkin tak bersyukur, kau pasti tau bahwa aku tak mungkin sanggup untuk membebanimu walau hanya seberat butiran debu. tapi aku ingin sekali bersadar dibahumu barang kali hidupku lega setelah itu.
Ayah, aku tak tau apa salahku?
saat pilu membelenggu dan aku tetap mundur, saat hujan petir menyambar takdir akupun berteduh walau basah kuyup, semua tiada arti. jalur sibuk membeleggu tiap - tiap hari dan terasa tiada akhir
belakangan ini aku semakin yakin bahwa aku memang tak sendiri meski kutapaki tiap - tiap langkah dengan sunyi.
akan kuceritakan semuanya setelah ini, saat air telah mengering.
Ayah, jika banyak orang disini yang meremas hatiku sampai air kering apa yang harus kulakukan selain berdiam menghela nafas? aku bahkan sudah tak mampu meminta atau sekedar bercerita, karna aku sadar bahwa aku tak mungkin kuat.
mungkin hanya pada waktu tertentu atau saat tak lagi mampu.
Ayah, jika kau telah dekat dengan Nya, bolehkah aku menitip pesan?
pada tiap - tiap bulir hujan aku pinta segala kesabaran, dan pada tiap petir aku pinta pecahkan sunyi yang membatin, pada tiap terik aku pinta segala cahaya keberkahan dan yang lain aku berserah.
Friday, September 22, 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Dipintu itu...
Adalah ketika pintu tertutup rapat, Bukan lagi soal kekosongan atau hampa diruang, Tapi lebih dari itu ada seseorang didalam yang tenga...
-
Ada seseorang yang menyembunyikan lukanya dengan diam, Tersenyum dengan hati yang begitu keram, Darahnya mendidih, meremas urat nadi me...
-
Kamu, Adalah kaca jendela, Sedang aku, hanya embun pagi yang kau lenyapkan Sebab aku hanyalah penyebab dikaburnya pandangan Aku meleka...
-
Berhentilah mendekat, jika masa depan belum juga terlihat Sebelum luka melekat, pada tiap - tiap harap belaka Melepaskan adalah jalan terc...
No comments:
Post a Comment