Monday, September 25, 2017
PACARAN
Bukan malah menjerusmuskan menghendaki nafsu belaka
Jika memang benar cinta, maka jagalah dalam taat
Bukan malah membuat murka dengan mendekati zina
Bagaimana mungkin yang mengaku sayang malah tega melihatmu kelak disiksa dibara neraka
Ada yang telah lama memadu asmara namun berakhir sengsara
Ada yang bergonta ganti pasangan dan akhirnya kesepian
Waktu kedekatan bukanlah kepastian
Sibuk berdarah - darah dengan orang yang salah
Bukankah itu jatuh bangun yang sia - sia ?
Belum lagi soal tinggal meninggalkan
Ini sudah seperti kewajaran berlumur kesedihan
Ada pula soal memberi dan menerima harapan
Yang bermuara dipangkalan kecewa
Aku tak menyalahkan lelaki yang suka merayu
Atau wanita yang terlalu mudah jatuh
Karna pada hakikatnya cinta yang tertulis dihati tidak dibuku janji hanyalah semu
Jika sudah siap hadapilah walinya,
Jika belum, peluklah dalam dekapan doa
Itulah sebaik - baiknya menjaga
Selebihnya serahkan pada yang Kuasa
Ada lima dan sepertiga waktu yang senantiasa menunggumu berseru
Ada gemuruh ribut hati yang mendoakan dalam hening syahdu
Kau tak sendirian, ada banyak rintik hujan bersama harapan yang disegerakan
Jika bukan sekarang, percayalah ada waktu diujung penantian yang lebih indah
Berhentilah mengumbar, disana ada yang telah bersiap menemani hingga akhir hayat
Pacaran belum tentu bersama, berpisah bukan berarti tak sama
Hanya soal waktu atau mungkin jarak juga berprilaku
Tapi tetap saja jodoh pasti bersatu
Yang keras kepala berjuang sebagai rumah untuk kembali pulang
Menyimpun kisah sendirian
Aku tak punya apa - apa untuk pulang
Hanya segenggam harap untuk bertahan
Kucari dalam senyap
Diam - diam tanpa tawanan
Sosok yang pantas tuk bersandar diujung penantian
Berbagi segala sampai akhir hayat
Dua yang menjadi satu
Banyak yang semua menyatu
Dikelima dan sepertiga waktu yang ku ributkan selain orangtuaku
Mungkin bukan nama, Tapi lebih dari sekedar itu
Kini atau nanti
Bersikukuh berjuang dengan waktu
Sebagai tempat beradu temu
Rumah itu yang kumaksud
Tempat berdiam dengan syahdu menuju pulang yang selalu kutunggu
Dari Wanita
Sebelum luka melekat, pada tiap - tiap harap belaka
Melepaskan adalah jalan tercepat untuk tinggal dalam perihnya harap.
Aku tak ingin menuntut banyak,
Hanya ingin menggantungkan niat untuk menjalin hari kedepan bersama
Tapi ini bukan paksaan,
Jika tidak maka tinggalkan,
jika kau tak bisa biarkan aku yang berjalan pulang
Waktu terus berputar, sedang kau masih saja menghindar
Aku butuh kepastian
Bukan hanya buai rayuan
Jangan berlari semakin jauh untuk menghindar
Kau kan bukan seorang payah?
Jika hati telah kau pikat
Harusnya kau tanggung jawab
Berjuanglah, kau tak sendirian
Aku berdiri ditepi sana,
Jika sampai nanti kau tak kunjung datang
Biarlah undangan yang akan menyapa
Hujan pagi
Bersenandung rindu yang berbalut ragu dalam selimut pilu,
Pagi hari yang mendung dengan asa yang menantimu, ribut membahas apakah nanti akan berakhir temu.
Sejujurnya setiap hari tak terlewatkan dengan hasrat ingin bertanya kabar,
Tapi rasa itu baiknya kupendam sendirian
Sebab keberanian tak sebesar keinginan terencana
Jangankan untuk bertanya kabar, untuk sekedar menyapa pun aku tak bisa
Maaf, jika aku terus mengenang, tiap - tiap waktu kita pernah bersua
Mungkin sudah terlalu lama hingga kabarku tak lagi kau ingat
Tapi segalanya masih sangat melekat, dan mungkin bayangmu tak kan sirna
Aku ingin sekali katakan rindu, namun aku sungguh malu
Terdapat begitu banyak beda antara kau dan aku
Kita tak lagi seperti dulu itu,
Ku akui itu
Aku hanya mampu mengintai lewat berbagai sosial mediamu
Atau mencuri pandang lewat jauh walau hanya melihat segaris matamu
Tapi itu semua hanya kadang jika waktu berbaik hati padaku
Aku tau, diri ini bukanlah tambatan hatimu
Bukan pula sosok yang ingin kau curi sebagai teman hidupmu
Biarlah setiap doaku menghiasi derasnya hujan pagi yang konon menyimpan banyak malaikat yang mendengarkan kisah ini.
Kudoakan agar aku kuat menunggumu diakhir penantian
Meski saat ini aku hanya berdoa sendirian.
kembang api
Saat seseorang datang dan pergi tak kembali
Dan kini hadirmu ramaikan kembali
Seperti kembang api dimalam hari
Hiasi langit dengan warna warni dan keributan dimeganya sanubari.
Pernahkah?
Pernahkah kau merasa hampa?
Kosong tak bernyawa?
Raga hidup namun jiwa melayang
Kau tak bisa bicara atau takut untuk alasan?
Tau kah kau dengan sepi?
Rasa yang menyiksa saat batin terbungkam lirih
Ada kalanya diri ingin menikmati hikmatnya sendiri tanpa beban
Dan kadang takut menghantui tak kala sepi membunuhmu perlahan.
Sunday, September 24, 2017
Jatuh & bangkit
Saya pernah berpikir pada suatu titik jenuh untuk jatuh dan bangkit.
Namun hidup selalu punya jalan tempuh sendiri.
Semesta yang bercerita tentang sibuknya alur perjalanan hidup manusia dimuka bumi.
Ada banyak seseorang yang datang dan pergi, masuk ke dalam bagian hidup entah sekedar melewati atau memilih untuk tetap menemani.
Sebagian datang dengan membawa berbagai kisah menarik, sebagian lagi datang mengajarkan luka lalu pergi, dan bagian lainnya datang dengan meninggalkan sebekas cerita.
Semesta selalu paham tentang siapa yang pantas, janganlah gundah sebab semua pertemuan ada hikmahnya pun derita
Tak ada yang lebih perih ketimbang terlalu "Berharap" pada yang tak mesti.
Soal jatuh dan bangkit, semoga kita saling menyemangati.
Friday, September 22, 2017
Wanita biasa calon jenazah
Meski terbata - bata dengan hanya mengucap basmalah, atau selalu lupa bersyukur atas tiap - tiap nikmat Nya.
Aku belum lelah.
Tak lagi ku sia - siakan waktu walau hanya semenit itu untuk menadah pilu atas tiap - tiap harapan yang pergi dari kenyataan.
Tak lagi aku ragu, untuk mundur teratur tak kala lelaki itu memang bukan jodohku
Tak lagi rintik hujan mengaung saat salah mencakar batih sampai terisak semalam suntuk
Tak lagi kuhiraukan ngaungan suara merong rong telinga
Sampai akhirnya aku memilih jalan sunyi diujung tepi sana, agar bayang tak terlihat senyum sendu menyamar ronanya.
Dan aku Tentram, dengan ala kadarnya.
Aku ingin tertidur, karna ada jiwa yang mesti istirahat menyambut rindu
Dari pencipta dan mahluknya yang memang sudah bergaris ditanganku
Ada peluh saat menapaki tiap - tiap langkah dengan sedikit keluh
Hati bagai baja ringan yang senantiasa meronta saat hujan lebat turun
Dan aku hanya tersenyum.
Aku ingin beradu dengan sepotong ketulusan yang mungkin sangat sulit kutemukan ditiap - tiap barisan waktu.
Dengamu, dan dengan seluruh yang kelak menjadi satu.
Ayah
lagi - lagi aku merindukanmu, meski langkah ku tak mampu menghampiri hadapmu atau mungkin wajahku tak bisa menatapmu namun aku selalu bersikukuh kau mendengarku.
aku tak pernah tega, perihal hanya membayangkan kerutan alismu walau tak terlihat itu. saat aku mulai menyerah pada tiap - tiap fase keadaanku.
Ada 4 malaikat dunia yang kau sisakan padaku untuk ku jaga,
ayah, apakah kau sudah bicara pada Nya? bahwasanya apa benar aku kuat menghadapi semua?
suatu saat nanti aku ingin hijrah sebentar, mungkin beberapa waktu sampai aku benar - benar siap kembali dengan kenyataan.
Ayah, bukannya aku ingin berkeluh terus padamu atau mungkin tak bersyukur, kau pasti tau bahwa aku tak mungkin sanggup untuk membebanimu walau hanya seberat butiran debu. tapi aku ingin sekali bersadar dibahumu barang kali hidupku lega setelah itu.
Ayah, aku tak tau apa salahku?
saat pilu membelenggu dan aku tetap mundur, saat hujan petir menyambar takdir akupun berteduh walau basah kuyup, semua tiada arti. jalur sibuk membeleggu tiap - tiap hari dan terasa tiada akhir
belakangan ini aku semakin yakin bahwa aku memang tak sendiri meski kutapaki tiap - tiap langkah dengan sunyi.
akan kuceritakan semuanya setelah ini, saat air telah mengering.
Ayah, jika banyak orang disini yang meremas hatiku sampai air kering apa yang harus kulakukan selain berdiam menghela nafas? aku bahkan sudah tak mampu meminta atau sekedar bercerita, karna aku sadar bahwa aku tak mungkin kuat.
mungkin hanya pada waktu tertentu atau saat tak lagi mampu.
Ayah, jika kau telah dekat dengan Nya, bolehkah aku menitip pesan?
pada tiap - tiap bulir hujan aku pinta segala kesabaran, dan pada tiap petir aku pinta pecahkan sunyi yang membatin, pada tiap terik aku pinta segala cahaya keberkahan dan yang lain aku berserah.
Thursday, September 14, 2017
Asing
Apa engkau percaya?
Ada sepasang ingatan yang berdiri berhadapan dalam hati yang sama
Dimana tawa - tawa itu pernah ada dalam rasa yang sama
Meski sekarang tidak.
Saling mengisi relung pikiran senyap meski saling berdiam
Mungkin satu sama lain tak sadar ada hati yang sama bergetar
Karna temu berubah menjadi sekedar,
Atau memang kita kini telah kembali menjadi dua orang asing
Yang dulu tak pernah kenal.
Wednesday, September 13, 2017
Waktu
Waktu adalah kata yang tak dapat ku urai
Rindu adalah sifat yang tak dapat ku lerai
Sedang kau, adalah hal yang tak dapat ku gapai :)
Pada sepi aku menepi
Perihal kisah yang tak bisa ku raih
Dan segala mimpi yang menjadi tak pasti
Baiknya kini ku obati saja semua luka ini.
Kelak mungkin kau kan merindukan ku
Karna suara, rupa, prilaku, atau
Sebagai sesuatu yang tidak pernah kau temui lagi
Pada siapapun.
Aku memang masih disini, namun aku tak lagi tinggal seperti dulu
Kini aku telah beranjak dari tempat perih yang membelajariku akan lirih
Hingga segala rintih berubah menjadi energi yang semakin menguatkan diri.
Dari ku, seseorang yang pernah kau sia - sia dan tinggal pergi.
Aku tak kan bernasip seperti akhir pekan yang dikagumi
Didatangi untuk dinikmati kemudian dipamiti lagi.
Padahal aku selalu ingin menjadi waktu istirahat terbaik dengan segala bahagia dipipi
Namun kau tak mengerti
Atau mungkin memang seperti ini tempat yang kau beri.
"Pamit"
Telah habis kata - kata untuk sekedar berkata "Kecewa"
Telah habis rasa - rasa untuk mengutarakan segala "Asa" yang dulu pernah ada
Kemudian aku hanya bisa berdiam, mengintai dari sudut kejauhan
Sampai akhirnya aku tak lagi kuat untuk bersebelahan atau hanya disekitar.
Aku pamit, tanpa kata karna aku memang sudah tak berasa,
Semoga kau bahagia.
Monday, September 11, 2017
Aku, kamu, dan tulisan
Aku hanya suka menulis coretan puisi,
Sedang kamu mahir dalam memainkan hati
Apakah kita pantas untuk saling mengisi?
Aku hanya remahan keindahan,
Sedang kau pengagum beratnya
Lantas apa lagi harapku sang penulis kisah?
Rindu diujung Senja
Meski mentari masih malu - malu untuk tenggelam
Mungkin sinar merona ini kalah oleh rindu yang benerang
Pulanglah,
Aku kesal dengan rindu ini
Yang tak bisa berkompromi dengan segala situasi
Ia tiba - tiba datang dan berlari - lari dalam pikiran dan dalam hangatnya dekapan mimpi
Sudahlah, toh hubungan ini sudah tak ada lagi.
Tapi mengapa rindu ini masih saja tinggal dan bersemi?
Saturday, September 9, 2017
Ada kenyamanan dalam sandaran bahumu, sayangnya itu bukan Hak ku.
Ada cerita masa itu,
yang kini membuatku membisu
Aku tak lagi membicarakanmu pada semestaku
Aku ingin tuli tentang segala kisah barumu
Saat rintik hujan disenja yang semakin menyiksa menahan rindu yang tak karuan kurasa
Tapi kubiarkan kau terjaga, dalam ingatanku yang paling dalam
Agar saat kau menari dengan lagumu dimasa depan, aku tak kan lagi kesakitan
Karna,
Sepanjang jalan kenangan tak sepanjang kisah kita.
Berhenti berharap awal dari melupakan
Berhentilah berharap sebagai awal dari proses melupakan.
Perlahan - lahan harapan musnah bersama guguran dedaunan
Aku bukanlah buah, hanya daun yang merasa istimewa
Ketika sudah sampai pada musimnya, akulah yang lenyap
Kubisikan lirih kecil sebelumnya,
Tapi itu mungkin gak begitu guna.
Aku gugur bersama harapan, dan melupa perlahan.
Hati - hati
Hati - hati !
Kau bisa salah langkah,
Aku khawatir jika kau jatuh hati bukan padanya,
Melainkan pada harapan yang perlahan hilang dan mati diperaduan.
Kembalilah pulang !
Friday, September 8, 2017
Seorang perempuan dikehidupan kedua
Alkisah seorang perempuan,
Yang terlanjur jatuh hati di peraduan
Dirinya yang bengkok dilemaskan,
Egonya yang besar diredamkan,
Harusnya lelaki itu tak pernah gundah
Pada tiap - tiap hati jantan yang mendekat.
Harusnya lelaki itu ada, karna ia selalu dirindukan.
Tubuh yang lemah dengan hati yang kuat,
Soal setia bukan lagi persoalan
Namun sayangnya sang lelaki telah berpulang dari peradaban
Untuk selama lamanya.
Hati perempuan itu hancur tak terkira, tapi hidup memaksanya tegar
Mengumbar senyuman hambar dengan sedikit tawa
Yah, begitulah kisahnya
Bahagia yang diakhirkan sejenak sembari memupuk rindu dan harap temu di kehidupan kedua.
Dipintu itu...
Adalah ketika pintu tertutup rapat, Bukan lagi soal kekosongan atau hampa diruang, Tapi lebih dari itu ada seseorang didalam yang tenga...
-
Ada seseorang yang menyembunyikan lukanya dengan diam, Tersenyum dengan hati yang begitu keram, Darahnya mendidih, meremas urat nadi me...
-
Kamu, Adalah kaca jendela, Sedang aku, hanya embun pagi yang kau lenyapkan Sebab aku hanyalah penyebab dikaburnya pandangan Aku meleka...
-
Berhentilah mendekat, jika masa depan belum juga terlihat Sebelum luka melekat, pada tiap - tiap harap belaka Melepaskan adalah jalan terc...












