Sunday, August 27, 2017

Aku senang bertemu mereka yang mudah melupakan, setidaknya aku banyak belajar tentang berbagai cara menarik untuk tidak mudah mengingat.
Tapi aku benci bertemu mereka yang sulit dilupakan, semisal "kamu" yang teramat sulit terhapus dalam "ingatan".

Faktanya, soal perasaan tak sesederhana yang mereka katakan.
Banyak letih yang merintih, banyak rindu yang menggebu, banyak harap yang tak kunjung lenyap
Meski jarak dan waktu tak sepakat mendekat namun hati tetap ricuh meratap sampai menetap, jika itu bukan dalam dekapan tak mengapa bila hanya dalam doa yang kuat.

Nyatanya Tuhan begitu baik pada kita, dihadirkan seseorang yang mampu menentramkan hati dan seisinya tanpa perlu banyak alasan, atau bahkan hanya dengan kehadirannya, misalnya.

Jika mahluknya saja sudah sangat menyenangkan apalagi yang menandingi tenangnya hati saat menghamba pada Nya?

Meski aku bukan seorang pandai agama, namun selalu kudambakan seorang yang mendekatkan ku pada Nya.
Hal ini bukan tanpa sebab,
Melainkan ada banyak harap yang ingin kujaga agar sang kuasa mengiyakan jika itu bersama nya.

Disaat musim kelabu
Kau bergegas menjauhi hujan kala itu menjauh perlahan dari sendu menuju arah senyuman syahdu.
Merayu, berlalu dengan pilu.
Wajahmu tersipu, memerah bersama amarah namun setenang angin menghembus daun.

Aku rembulan

Aku rembulan yang senantiasa membiaskan cahaya untuk terangimu sepanjang malam hingga tiba diambang pagi.
Walau hadirku tak kau syukuri, aku tak pernah cemburu perihal kau mendamba matahari.

Aku hanya rembulan, yang tak mampu bercahaya seperti matahari
Namun aku setia mengelilingi bumi, walau ia terus berlari
Dan Aku bahagia meski sesederhana ini

Rembulan

Dikagumi olehmu adalah tanggung jawab besar yang kupikul dari Tuhan.
Sebab diri ini bukanlah wanita baik seperti yang kau pikirkan :)

Aku bagikan rembulan dimalam hari yang kau nikmati seperti memandang mentari
Aku hanya rembulan, semoga kau syukuri.

Bukan perihal pertemuan atau perpisahan yang selalu berkesan.
Namun apa yang terjadi "diantaranya" yang selalu mengiang entah itu menyenangkan atau sebaliknya.
Mungkin ada banyak goresan nama yang menghiasi setiap tapak kehidupan, namun selalu ada yang istimewa diantarannya.
Mungkin nama itu menjadi kisah selanjutnya atau berakhir dengan "sudah".
Dan Kutulis ini dengan penuh harap

Thursday, August 24, 2017

Akan ada masanya

Akan ada masa dimana diri merelakan setiap harap, mimpi, bahkan rencana. Manusia yang hanya mampu berharap sedang Tuhan punya segala. Jauh dari sana banyak cerita, entah apa yang kau ingin tulis maupun tidak, sajak - sajak malam hiasi langkah berdiskusi pada sang Kuasa.
Pun aku, yang begitu rumit jika dijelaskan, tak ada standar yang kutulis dengan rinci untuk calon pendamping masa depan, tak berani pula ku harap segala angan terlalu dalam.
Sebab kepahitan itu tak ada penawarnya, pun diri yang tak pantas mendapatkan.
Aku berdiri dengan kesendirian bukan karna terlalu memilih namun memantapkan hati yang berpuasa sebab ada Tuhan yang kuserahi mengurus semua dan tugasku hanyalah benahi diri sambil berpasrah.
Dan tulisan ini bukan untuk kupersembahkan tuk seorang yang teramat istimewa sekarang, hanya saja mungkin ada yang tak sengaja terjawab tanyanya, sebab mejabarkan bukan perkara mudah terlebih lagi jika tak seirama.

Aku adalah partikel debu yang lepas diudara, diombang ambing angin diangkasa
Dan mendarat dipadang pasir bersama jutaan harapanku yang lain.

Aku adalah partikel debu yang lepas diudara, diombang ambing angin dan mendarat di padang pasir bersama harapanku yang lain.

Sunday, August 20, 2017

Ibu kedua ku

Teruntuk ibumu yang kelak menjadi ibuku,
Perkenalkan saya seorang putri yang bukan terlahir dari kerajaan seperti dinegri dongeng anak sewaktu saya kecil.
Bukan seorang koki berparas cantik, dan bukan pula wanita karir yang gemilang disetiap sisi.
Saya hanya seorang gadis yang berasal dari keluarga sederhana dengan segala kekurangan, yang berparas tak begitu menarik.
Mungkin jauh dari kata idaman laki - laki, mungkin jauh dari kata layak sebagai pendamping.
Putramu mungkin salah pula melihatku dari dari sisi yang lain.
Ibu, Bolehkah saya menggapai tanganmu? Sembari meminta restu yang ikhlas tanpa ragu?
Semoga apa yang dikau pikir tentangku tak seburuk sangkaku.
Ibu, Maukah kau bagi rahasiamu?
Sambil kau ajarkan padaku bagaimana cara membahagiakan putramu.
Terima kasihku untukmu yang telah melahirkan dan merawat imamku.

Untuk ibu keduaku.

Bertutur lucu, berparas lugu
Simpulan yang menggambarkan aku
Saat dulu kita bertemu, sampai terbesit niat untuk bermain menertawakanku.
Ucapan harapan hanya sekedar pemanis yang entah kapan terwujud, mengambung hati sampai kelangit dan terjatuh saat hujan runtuh.

Terima kasih untuk waktu, yang berjalan sekian lama sampai aku bisa merangkum semua tanpa jenuh.

Panah yang tepat sasaran

Bagai panah yang tepat sasaran, kutuang semua gundah pada tiap tiap malam.
Hanya seorang pendosa yang memelas, bercucur pinta, sendu, dan air mata.
Tak ada nama yang ku ucap,
Tak ada paksa yang ku tata,
Tuhan tak pernah tanya semua,
Aku yang kecil dan lemah
Hanya meminta belas kasihan pada Nya
Sesekali kusebut duka didada, yang mungkin kau salah satu penyebabnya.
Tapi aku berbicara baik - baik saja,
Kuharap tak ada balasan yang sama perihnya ketika aku berada diposisimu sekarang.

Di pelukmu aku jatuh sedalam dalamnya
Dan dikedalamannya aku ingin tinggal selama lamanya.

Aku tak bisa berenang, melawan derasnya arus rayuan. Aku ingin hanyut dipangkuan mu sampai Tuhan memisahkan.

Kemarin aku baik - baik saja, namun ketika kau datang hidupku seperti di restart ulang.
Aku bagaikan perangkat yang kehilangan banyak akal sehat, dan akhirnya kelimpungan mau berbuat apa?
Sedang kau bagaikan virus yang menghentikan rencanaku.

Menunggu Kepastian

Rindu terperam dalam ponsel semalaman, aku dering notif yang kau acuhkan berlama - lama.
Mungkin sesekali tak sengaja disela waktu kau ingat.
Aku kesepian bersama kata "Menunggu Kepastian".

Kita

Bisakah kau beri aku contekan tentang rencanamu yang kau coret dihalaman kertas itu?
Aku ingin melihat apakah masih ada baris tersisa, yang bisa kutuliskan namaku disana,
Karna aku berharap bisa menjadi bagian dari rencana yang kau tuju dilanjutan kisah mu yang kelak menjadi kisah kita.

Waktu

Kurasa waktu tak pernah adil,
Karna ia selalu mengambil andil
Berjalan begitu lambat ketika digenggam jarak, dan berakhir begitu cepat dilepas temu.
Tak adil bukan?
Padahal aku berpeluh menunggu dengan syahdu sebuah rindu.

Katanya rasa sakit ditimbulkan dari apa - apa yang kita benci,
Salah satunya seorang yang kita benci atau musibah yang tak dinanti.

Tapi faktanya, seseorang yang dicintai atau mungkin waktu yang dinanti justru pencetus terhebat dalam hal Menyakiti.

Yang penting kamu, aku nanti

Disaat lisan tak berbunyi bukan berarti tak ada kata yang tak ingin diberi.
Namun mungkin saja ada hati yang ribut berbincang dengan sang Kuasa yang berupaya memendam rasa agar kisah tak biasa menjadi berita bahagia.

Bahkan saat membahagiakan seseorang dirasa senang, sesungguhnya kebahagiaan itu lebih tinggi dari bahagia diri sendiri.

Yang penting kamu, aku nanti :)

Tenang, kau tak perlu lagi menoleh atau menulis peta saat aku tersesat meronta meminta arah.
Sebab aku kini sudah tau bagaimana caranya berjalan mundur.

Saturday, August 19, 2017

Saat lisan saling tak bertutur, senyum tak mengembang, dan tak lagi bertegur sapa.
Jadilan laki - laki sejati yang tak menyakiti dengan ucapan, dan mematahkan dengan harapan.

Thursday, August 10, 2017

Kepada YTH :

Salam terhomat untukmu tuan,
Bolehkah saya bertanya?
Tentang sebuah gundah yang melanda sekian waktu di dada,
Tuan, jika anda berkenan izinkan saya tuk ungkapkan bahwa,
Jika tak niat untuk menetap saya harap jangan membuat nyaman.
Jika sekiranya dalam waktu dekat akan berangkat dapatkah sekiranya agar tak mengambil peran terlalu banyak.
Sebab soal menyayangi apalagi mencintai tak sebercanda itu tuan :)

Jika tak bisa beri kepastian,
Tolong jangan bilang ada penantian,
Karna hati ini bukan tempat persinggahan
Yang siap sedia untuk berhenti dikala menanti untuk berangkat dan pergi lagi.

Malaikat pun tau

Malaikat tak pernah salah catat,
Lakukan dengan hikmat untuk memperoleh nikmat,
Meski manusia kadang sering salah tanggap.
Karna hidup terlalu singkat hanya untuk menyikap segala persoalan yang kadang mengerat.

Tuesday, August 8, 2017

Wanita tangguh

Sebagai wanita yang berpeguh menjadi tangguh, berjuang tanpa keluh walaupun berpeluh.
Wanita tangguh takan runtuh hingga badai berlalu.
Saat langkah kian layu, silih berganti datang merayu, namun hanya akan luluh pada yang seharusnya dipeluk.

Monday, August 7, 2017

Maaf

Maaf,
Kata yang paling ditunggu saat waktu berburu pilu, Namun sering datang saat tak lagi ditunggu.
Seperti kata maafmu, yang sering terlewat waktu
Bahkan kudapat saat sudah tak lagi perlu

Masih sayang?

Ada rasa yang pernah bersemayam sekian lama dan kini hilang entah kemana.
Sudah kucoba cari kemana - mana namun tak kunjung mendapat tanda.
Katanya ia pergi jauh dari "rumahnya"
Ia pergi dengan berbagai alasan yang mestinya telah kita paham.
Jadi, haruskah aku bersuara untuk berkata tentang bimbang didada, saat kau bertanya masihkah sayang?

Melangkah, satu demi satu kutapak
Berpindah, kiri dan kanan berselingan
Luka terkikis dan kucoba untuk diam diguyur tangis.
Seperti sudah saatnya untuk pergi karna hati layak untuk dicintai.
Karna cinta itu bahagia,
Terlebih jika ada dua rasa yang saling menjaga, Bukan hanya setengah atau sebelah.

Aku yakin disuatu waktu, ketika kita menjadi terasing dan saling lupa,
Namun hati kita terasa hangat bahkan saat tak saling sapa.
Waktu panjang yang berputar kencang, bisa saja menghapus segala,
Tapi tidak pada hati kita yang masih erat berpelukan.

Dipintu itu...

Adalah ketika pintu tertutup rapat, Bukan lagi soal kekosongan atau hampa diruang, Tapi lebih dari itu ada seseorang didalam yang tenga...