Kutulis sebuah surat
Bersampul biru dikertas lipat,
Tertanda untuk dikau yang berdiri dihadap ku kelak
Aku wanita akhir zaman,
Yang belum bisa istiqomah
Butuh banyak nasihat dan tuntunan
Dan jauh dari kata sholeha,
Banyak dosa yang tertanggung waliku
Yang mungkin akan berganti limpah padamu
Terbata sering mengucap syukur,
Namun aku tak pernah lupa tersenyum
Jangankan idaman, mungkin pantas pun tidak
Berhias pun jarang, hijab pun kadang tak benar
Tapi aku sudah merasa jatuh terluka luka
Bantumu tak sampai pun aku tak mengapa
Namun sesekali aku minta,
Bahumu, sebagai sandaran didalam lelah
Tak lama kuminta, hanya sesaat
Sampai peluhku hilang sementara,
Lalu kurelakan dikau pergi lagi
Sampai waktu nanti, kau ingat surat ini
Sebagai saksi perjalanan mengukir
Sebuah cerita illahi
Friday, August 12, 2016
Surat Biru
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Dipintu itu...
Adalah ketika pintu tertutup rapat, Bukan lagi soal kekosongan atau hampa diruang, Tapi lebih dari itu ada seseorang didalam yang tenga...
-
Ada seseorang yang menyembunyikan lukanya dengan diam, Tersenyum dengan hati yang begitu keram, Darahnya mendidih, meremas urat nadi me...
-
Kamu, Adalah kaca jendela, Sedang aku, hanya embun pagi yang kau lenyapkan Sebab aku hanyalah penyebab dikaburnya pandangan Aku meleka...
-
Berhentilah mendekat, jika masa depan belum juga terlihat Sebelum luka melekat, pada tiap - tiap harap belaka Melepaskan adalah jalan terc...
No comments:
Post a Comment