Wednesday, June 15, 2016

Hujan Dikala Senja

Senja , merah merona seperti pipinya
Waktu yang paling kunanti untuk istirahat sejenak dari lelah, sementara beberapa saat menunggu kumandang nan syahdu bersuara
Senja, sayup hening terang menggelap
Saat yang kadang mengiris hati entah mengapa mengungkap kenangan
Senja, yah senja
Kala itu senja indahku, agak menggelap merahku jadi menghitam
Mengapa, awan mendung tutupi pandangan
Aku tak rela, hujan basahi kepala
Aku benci saat hujan disenja
Mengapa, hujan hapus indahnya?
Mengapa hujan tega hentikan pandangku tatapnya?
Tidak, sahutnya
Hujan tidaklah bersalah,
Hanya senja yang hanyutkan rasa hingga lupa kenangan
Sampai tak rela melepasnya,
Namun hujan, hujan turun dari bulir air lalu yang terkumpul penuh menjadi awan
Tak dapat dihentikan, saat hujan itu runtuh tak kuasa menahan beban
Tak dapat disalahkan ketika senja merona menjadi hitam karna hujan
Biarlah, relakan senjamu sejenak menghilang menjadi hujan
Karna senja akan datang kembali keseokan harinya
Namun hujan, ingatkanmu akan ikhlas
Melepas sesaat kering keronta ditengah senja


senja pergi sejenak karna hujan, namun ia selalu hadir keesokan hari saat hujan pergi

 

2 comments:

  1. gaya puisinya lugas dan mengundang tanya, keren de. mirip gaya puisi rabindranate tagore. menurut kaka sich.

    ReplyDelete

Dipintu itu...

Adalah ketika pintu tertutup rapat, Bukan lagi soal kekosongan atau hampa diruang, Tapi lebih dari itu ada seseorang didalam yang tenga...