Friday, December 29, 2017

Patah apa Fatah?



Patah atau fatah?
Keduanya kurasa sama saja,
Menggores garisan hingga terbelah
Mengajari tentang arti merela
Rela untuk mengalah
Rela untuk melepas
Rela untuk menghempas
Walau aku bisa berteriak membalik awan
Dengan ricuh – ricuh gemuruh,
Suaraku bising diterpa rintik hujan membasahi pipi
tabah menjadi definisi dari jatuhnya lirih
pilu digulung waktu,
hatiku yang saat itu hancur karna patah atau fatah, aku tak tau
lalu kini menjadi debu,
disimpun hujan sepanjang waktu kemudian bersih seperti langit biru
mungkin tak kembali seperti dulu,
tapi berubah menjadi baru, dengan sedikit retakan berbalut rindu.

 

Jika itu tentangmu, aku tak pernah selamat





Sementara hujan,
masih malu untuk menyapa menyambangi tanah

Sedang kau,
sudah tenggelam dalam ingatanku sejak lama.

Sampai hujan turun membasahi kulit
Semua rindu dan harap disembunyikan.

Tapi tidak saat ingatanmu merasuk kepala
Aku tak pernah selamat.

Sebelum kita melupa




Sebelum kita benar – benar melupa,
Dulu cinta memang pernah bersemi dengan alur alami, yang entah dariku saja atau kita berdua
Tapi rasa itu bisa tua dan lalu mati,
Aku harap kita tak lagi bersembunyi dibalik banyak alasan untuk tetap tinggal,
Sebab hubungan tak bisa dipaksa, terlebih itu soal rasa
Marilah kita akui bahwa kisah harus disudahi, hingga kita saling melupa satu sama lain
Musim berganti dan mungkin setiap kisah memang punya akhirnya sendiri
Disini ada baiknya memang kita berhenti,
Ibarat sebuah kopi pahit tanpa gula, yang tak sedap dinikmati tanpa manisnya
Meski kenyataan tak sesuai harap, tapi faktanya kita tak bisa menikmati hubungan yang suram
Biarkan waktu yang menggerus kenangan sampai kita benar – benar melupa.

Dipintu itu...

Adalah ketika pintu tertutup rapat, Bukan lagi soal kekosongan atau hampa diruang, Tapi lebih dari itu ada seseorang didalam yang tenga...