Friday, May 12, 2017

Tersayang




Tak perlu kurasa untuk berikan apapun agar kalian suka,
Tak perlu kurasa jelaskan apapun agar kalian menerka salah,
Ini aku dengan segala kelucuan yang tak biasa 
Banyak cerita yang sering menyelinap dibalik tawa
Aku dan segala impian, hanya itu yang kupunya
Tidak seperti kalian, yang ada segala
Hanya hujan diluar jendela dan sayup keheningan malam tempatku cerita
Menumpah segala hingga kadang lelah disudut lemah
Sering salah diterka segala cerita melukis warna yang tak sama
Jangan, kumohon jangan begitu padaku yang biasa
Aku terlalu kerdil untuk ditindas, bahkan sekedar menggapai  lengamu aku tak bisa
Hanya mencari sesuap harapan dan segenggap angan,
Untuk bekal pulang dan memberi senyuman bagi yang tersayang
Siang malam bahkan tak kurasa, hanya sekedar untuk mengejar asa
Tuhan, segalanya punya cerita
Dan tak banyak yang kuharap, hanya secerca tontonan bahagia  dari mereka yang kusayang

Begini nih, kalau gadis kecil sudah bercerita soal hati



“ Memang dasar si bocah kecil pecinta air, hujan dikit langsung gembira bukan main ”. 

Sesuatu yang kadang ingin kembali kurasa, saat hal tersulit hanyalah PR Matematika.
Menginjak usia yang bisa dikata udah kepala dua, dan sangat bersyukur tidak berwajah dua, aku mulai kocar kacir gelimpangan merancang susunan rencana yang sempat berantakan dan anehnya seperti dikejar hutang.
Ingin ini ingin itu banyak sekali seperti nobita, dan ibu yang hobi ceramah tanya soal pasangan sudah mirip dengan dora padahal anaknya ini masih sibuk dengan dunianya sendiri yang dirasa gak kelar – kelar kalo dideskripsi.  Huff.. ini bukan hal tersulit, tapi hal yang paling mengkhawatirkan dimana ibu bapak sudah kebingungan soal perubahan yang dikira gak wajar, mulai dari ditanya soal ikutan majelis dimana, golongan teroris apa bukan, sampai masih suka lelaki apa tidak.. pertanyaan yang kadang bikin gemes, geli geli gimana gitu dengernya.
Bukan soal rencana ini itu yang terlalu banyak, tapi semua sempat gagal dan harus disusun sedemikian rupa, agak ngeri kalau denger cerita kisah tentang sosok wanita karir pemuja impian yang kisahnya berakhir sebagai perawan tua, weeiits.. agak ngeri ngeri gimana gitu dengernya but aku bukan sosok yang demikian.  Andai bapak ibuku kekinian yang hobi baca dimedia elektronik mungkin akan ku sajikan tulisan ini untuk mereka yang doyan memberiku ilham, apa lagi kalau bukan mendengarkan ceramah dipagi hari tentang bagaimana cara menjadi WANITA yang SUPER sekali seperti kata Om Mario.

Ibuku yang cantik, yang sering berpesan dikala aku menjadi wanita seutuhnya dirumah, untuk sekedar menonton acara india favoritnya dikala ia sibuk berpergian, terimakasih telah mengajariku untuk menjadi pendongeng ulung yang sering kau beri kesempatan untuk mengulang lagi cerita difilm itu.

Bapakku yang tampan, kesabaranmu dengan gaya bicara yang khas seperti orang yang berhemat suara terimakasih telah mengajariku untuk menjadi wanita yang peka atau mungkin super peka, dan kau sangat hebat bisa mengubahku jadi wanita peka yang ajaibnya bisa mengerti semua perkataanmu yang orang lainpun sulit mencerna.

Yak titisan dari kedua orang tua inilah yang menjadikanku menjadi wanita jadi jadian, bukan mistis atau berbau amis seperti hantu difilm horror itu, namun wanita yang terlihat kalem kata orang – orang tapi tak sekalem itu. Aku yang begitu gandrung dengan berbagai dunia banyak maunya meski yang dimauin bisa jadi tak mau padaku.
Pagi, siang, sore, malam, tengah malam, hampir pagi, baru istirahat dan kembali lagi seperti jadwal sebelumnya, rasanya masih kurang.  Masih banyak kurangnya, masih banyak buruknya dan aku sadar. Eiitss..hampir aja tercurhat, bukan ini episodnya..

ini pesan dari ibu tercinta yang sering bilang kalau cewek mini itu jangan pakai baju kedodoran gak pantes “ujarnya”, wah aku setuju gak setuju nih karna syariat islam menganjurkan untuk mengenakan pakaian yang longgar dan tak menunjukan aurat. Tapi bener juga si ngerasa gak pantes, kadang malah terlihat mirip ibu – ibu yasinan karna kudung dan pakaian yang serba kebesaran.
Tapi gapapa terus aku lanjutin deh, dan untuk kali ini aku sangat bersyukur diberi hidayah untuk menjadi anak yang super bandel dan ngeyel kalo dikasih tau, aku tetep lempeng jalanin keyakinan yang aku rasa perlu dipertahankan. Daan hasilnya, lama kelamaan mulai ada game baru, sepertinya tuhan gemes lihat tingkahku.

Hampir satu semester mulai ada gejala yang bikin hati lumayan berantem hebat dengan si akal, si ibu yang hobinya cari calon mantu kini sudah mulai lelah, agak heran awalnya tapi ternyata pengunduran diri perlahan mulai menjalar, wah kok bisa ya memangnya aku jelek banget apa, atau ada yang salah apa ya? Dan ternyata eh ternyata soal perinsip yang mungkin terlalu kaku ini tak mampu dijama oleh mereka yang mirip agar – agar, atau memang sudah waktunya ini hati dipatah berulang – ulang.
Begitu juga dengan di bapak, yang doyan nasehati sampe getol ngajak balik ke jalan sebelah lama kelamaan sudah melemah dan pasrah, wow kabar gembira tapi ini agak menguras lirih waktu wajahnya memelas sambil tersirat anakku akan kena azab dan tak mungkin menolongnya. Duh bapak, anakmu ini loh bidadari “katanya sendiri”, yah masa gak seneng si?

Agak sesak napas waktu ngelihat kaca karna muka sudah mulai berubah begitu juga dengan keadaan, well, dari perjalanan yang begitu panjang dan sempat bikin mabok perjalanan aku mulai merangkak memantaskan diri buat “ dia “ yang pantas saja. Memang ini wajah gak cantik – cantik amat tapi paling enggak masih pantes kok diajak kondangan, memang ini badan udah segini aja gak berubah tapi yah sebagai wanita asia masih tergolong normal, aku memang tak punya banyak waktu atau bahkan niat buat pacaran ala ala seperti orang – orang disana, tapi aku lagi jungkir balik menyiapkan apa yang perlu buat jalani hari kedepan.

Bukan sosok ideal yang nanti akan jadi sarjana dari kampus ternama, atau pegawai startup apalah namanya. Ini biasa aja bahkan super biasa dengan segala kekurangan. Si kecil anemia, yang suka ngeyel, dan ngambekan.  Apa coba yang bisa dibanggakan :’)

Dari mulai gerimis hingga pelangi aku masih aja duduk berpikir tentang hal yang lagi dipikirin, mulai kompromi soal hati bahkan mulai menyadari bagaimana perasaan para ukhty yang lebih dulu menutup diri dan sering jadi bahan bully. Wah entah memang kualitas diri yang masih abal – abal atau mungkin ini tangga udah mulai menanjak agak sesak ngosh ngosan tapi tak apalah, paling tidak kelegaan sudah berdiam.


Ini untuk para mahluk yang berjuluk pria, kalian yang punya wewenang untuk memilih bukan berarti seperti ibu – ibu yang berburu kepasar pilih – pilih tak senang lantas pergi. Ini hati bukan gerbong kereta api yang bisa dibuka tutup saat kau tiba dan pergi. Tak tau kah kalian, betapa sulitnya menjadi mahluk yang berjuluk calon mantuable yang digembar gemborkan oleh ibu – ibu bagi anak perawan yang selalu sibuk belajar ini dan itu banyak sekali demi lolos dari seleksi kalian?
Kadang heran dengan semangat para wanita disemester tua yang begitu bahagia mengejar dosen pembimbing hanya dengan mengingat akan dilamar setelah wisuda, atau dengan mereka yang sibuk mempercantik diri demi dapat pujian dan lelakinya tak lari kemana – mana.

Disaat seperti itulah, kadang saya merasa TERHARU.. melihat kenyataan apakah sosok ini adalah wanita sungguhan yang hanya pingsan perasaannya, atau wanita yang kelebihan hormon feminimnya. Bukan tak ingin seperti orang – orang, tapi lebih kepada berjuang sendiri untuk sosok yang mungkin lebih berharga lebih dari “ Dia “ yang belum pasti. 

Dipintu itu...

Adalah ketika pintu tertutup rapat, Bukan lagi soal kekosongan atau hampa diruang, Tapi lebih dari itu ada seseorang didalam yang tenga...